News

Netanyahu Rencanakan Operasi Militer Besar-besaran di Rafah

Konflik Terus Memanas di Gaza: Pengaruh dan Dampaknya

Konflik di Gaza terus memanas seiring serangan berkelanjutan oleh kelompok Islamis Palestina, Hamas. Pasukan Israel mengancam untuk melancarkan serangan terhadap kota selatan Gaza, Rafah, namun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjanjikan “jalur aman” bagi warga sipil yang melarikan diri ke sana.

Dalam sebuah wawancara televisi pada hari Minggu, Netanyahu menegaskan niatnya untuk memperluas operasi militer Israel melawan Hamas hingga ke Rafah. Meskipun terdapat kekhawatiran internasional akan potensi pembantaian di area yang dihuni oleh lebih dari separuh populasi Gaza, Netanyahu menegaskan bahwa operasi tersebut akan dilakukan sambil memberikan jalan aman bagi warga sipil untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Namun, masih belum jelas di mana sejumlah besar pengungsi yang tinggal di perbatasan dengan Mesir dapat mencari perlindungan. Netanyahu menyatakan bahwa rencana rinci sedang disusun.

Sementara itu, pasukan Israel terus bergerak ke selatan, dan Rafah telah menjadi pusat populasi terakhir yang belum dimasuki oleh pasukan mereka di Gaza. Meskipun demikian, kota tersebut terus diserang oleh serangan udara hampir setiap hari.

Para warga di Rafah menyatakan kekhawatiran mereka atas keamanan, dengan serangan Israel yang menghancurkan kendaraan polisi pada hari Sabtu meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Israel telah memerintahkan militer untuk mempersiapkan operasi darat di Rafah, yang menuai kecaman dari sejumlah pemimpin dunia dan kelompok bantuan, yang mengkhawatirkan dampak kemanusiaan yang akan terjadi.

Konflik di Gaza dimulai setelah serangan oleh Hamas terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober, memicu serangkaian tanggapan militer yang telah mengakibatkan korban jiwa yang signifikan, termasuk banyak warga sipil. Menurut perkiraan dari AFP, total korban saat ini mencapai lebih dari 28.000 orang tewas dan 250 orang disandera, dengan sebagian besar di antaranya merupakan perempuan dan anak-anak.

Meskipun upaya mediasi untuk gencatan senjata telah dilakukan, termasuk kunjungan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, keputusan untuk melanjutkan operasi militer tetap menjadi pilihan bagi pihak Israel.

Dalam konteks ini, Presiden AS Joe Biden telah mengecam tindakan Israel sebagai “berlebihan”, sementara Hamas memperingatkan bahwa invasi besar-besaran Israel ke Rafah dapat menyebabkan “puluhan ribu” korban jiwa.

Selain dampak langsungnya, konflik di Gaza juga telah memicu kekerasan di luar wilayah tersebut, dengan serangan terhadap target yang terkait dengan Hamas di Lebanon dan Suriah, menambah kompleksitas dan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Di samping itu, demonstrasi di Israel menuntut pembebasan sandera, pengunduran diri Netanyahu, dan pemilihan umum baru, mencerminkan kemarahan publik yang semakin tumbuh atas situasi konflik yang berkepanjangan.

Dengan terus berlanjutnya konflik di Gaza, upaya untuk mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan dan penyelesaian politik yang inklusif tetap menjadi prioritas untuk mengakhiri siklus kekerasan yang merusak kedua belah pihak.

Sumber Referensi Berita dan Gambar: www.ndtv.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button